(0382) 23726, +62 812-3784-9185
TRUK F Ende Perkuat Kapasitas Self Help Group untuk Mendorong Komunitas yang Inklusif dan Bebas Kekerasan

TRUK F Ende Perkuat Kapasitas Self Help Group untuk Mendorong Komunitas yang Inklusif dan Bebas Kekerasan

  • Kategori: Berita
  • Tanggal 12-06-2026

Ende, 16 Mei 2026 – TRUK F Ende menyelenggarakan kegiatan Penguatan Kapasitas Self Help Group (SHG) pada 14–16 Mei 2026 di Aula Rumah Bina Kerahiman Ilahi Ende. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota SHG dalam memahami isu Gender Equality, Disability and Social Inclusion (GEDSI), Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), serta Dukungan Psikologis Awal (DPA) bagi penyintas kekerasan.

Kegiatan menghadirkan narasumber Sr. Fransiska Imakulata, SSpS, Margaretha Y. Mbaru, S.H., dan Yunita Victoria Natal, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Melalui diskusi, studi kasus, simulasi, dan role play, peserta diajak untuk memahami berbagai tantangan yang dihadapi perempuan, anak, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya, sekaligus memperkuat kapasitas mereka sebagai agen perubahan di tingkat komunitas.

Pada sesi GEDSI, peserta belajar mengenai kesetaraan gender, hak-hak penyandang disabilitas, dan pentingnya membangun lingkungan yang inklusif. Sementara itu, materi TPPO dan KBGO membekali peserta dengan pengetahuan untuk mengenali berbagai modus perdagangan orang serta bentuk-bentuk kekerasan yang terjadi di ruang digital.

Materi Dukungan Psikologis Awal (DPA) menjadi salah satu sesi yang paling berkesan bagi peserta. Melalui simulasi kasus dan praktik komunikasi empatik, peserta belajar bagaimana memberikan dukungan yang aman, menghargai pengalaman penyintas, serta membantu mereka mengakses layanan yang dibutuhkan.

Salah satu peserta mengungkapkan bahwa pelatihan ini membuka wawasan baru tentang pentingnya pendampingan yang berempati kepada korban kekerasan.

"Selama ini saya berpikir membantu korban berarti harus memberikan solusi. Melalui pelatihan ini saya belajar bahwa yang paling penting adalah hadir, mendengarkan, dan tidak menghakimi. Pengetahuan ini sangat bermanfaat untuk kami terapkan di komunitas," ungkap salah satu peserta.

Peserta lainnya juga mengaku semakin memahami risiko perdagangan orang dan kekerasan di ruang digital yang kini semakin dekat dengan kehidupan masyarakat.

"Saya menjadi lebih sadar bahwa perdagangan orang dan kekerasan online bisa terjadi kepada siapa saja. Setelah mengikuti pelatihan ini, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk membagikan informasi ini kepada keluarga dan masyarakat agar mereka lebih waspada," tuturnya.

Melalui kegiatan ini, TRUK F Ende berharap Self Help Group dapat semakin berperan sebagai ruang dukungan sebaya yang aman, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan kelompok rentan. SHG diharapkan tidak hanya menjadi tempat berbagi pengalaman, tetapi juga menjadi motor penggerak pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, perdagangan orang, serta berbagai bentuk diskriminasi di tingkat komunitas.

Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan diharapkan dapat diterapkan dan disebarluaskan di lingkungan masing-masing, sehingga tercipta masyarakat yang lebih aman, adil, dan bermartabat bagi semua.**Helmin



Bagikan

Komentar