(0382) 23726, +62 812-3784-9185
Perkuat Keamanan Pembela HAM, TRUK-F Maumere Gelar Pelatihan Tiga Hari bagi Pegiat Kemanusiaan se-Pulau Flores

Perkuat Keamanan Pembela HAM, TRUK-F Maumere Gelar Pelatihan Tiga Hari bagi Pegiat Kemanusiaan se-Pulau Flores

  • Kategori: Berita
  • Tanggal 28-06-2026

Maumere, 27 Juni 2026. Komitmen untuk memperkuat perlindungan bagi pembela hak asasi manusia terus diwujudkan melalui Pelatihan Keamanan untuk Pembela HAM dan Perempuan Pembela HAM se-Daratan Flores. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Lembaga TRUK-F Maumere di Hotel Pelita Maumere selama tiga hari, yakni pada 25-27 Juni 2026.

Pelatihan berlangsung setiap hari pukul 08.00-17.00 WITA dan diikuti oleh pegiat kemanusiaan dari Maumere, Ende, Nagekeo, dan Flores Timur. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Suster Fransiska Imakulata atau Suster Ika selaku Ketua RKF, staf TRUK-F Maumere-Ende, serta berbagai organisasi masyarakat sipil.

Pelatihan ini menghadirkan dua fasilitator berpengalaman, yaitu Theresia Iswarini atau Rini, pengacara publik dari Jakarta, serta Ainul Yaqin yang mengikuti kegiatan secara daring melalui Zoom.

Pada hari pertama, Rini membawakan materi berjudul “(Perempuan) Pembela HAM dan Perlindungannya di Indonesia”. Peserta diajak memahami makna dan peran pembela HAM, konsep Perempuan Pembela HAM atau PPHAM yang diperkuat melalui Deklarasi Marrakesh 2017, serta berbagai bentuk kekerasan yang secara khusus dialami oleh perempuan pembela HAM.

Materi tersebut juga membahas situasi PPHAM di Indonesia, posisi negara sebagai pelindung sekaligus pihak yang berpotensi melakukan pelanggaran HAM, peran lembaga HAM, konsep keamanan mandiri dan keamanan holistik, serta sepuluh prinsip perlindungan pembela HAM yang sensitif gender. Sebagai bagian dari refleksi, peserta bersama-sama menyaksikan film pendek “Munir dan Jalan Terjal Perlindungan Pembela HAM”.

Pada sesi berikutnya, Ainul Yaqin memaparkan materi “Menilai Lingkungan Kerja”. Ia menjelaskan tiga metode utama dalam menganalisis lingkungan kerja pembela HAM, yaitu menyusun pertanyaan kunci, melakukan analisis kekuatan lapangan, serta mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat.

Ainul juga menekankan bahwa setiap perempuan pembela HAM memiliki tingkat risiko yang berbeda. Risiko tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti isu yang diperjuangkan, kepentingan pihak tertentu, kondisi sosial-politik, pemberitaan media, jaringan, akses, stigma, gender, regulasi, hingga konflik.

Memasuki hari kedua, kegiatan diawali dengan tinjauan ulang materi dan teknik relaksasi body scan yang dipandu oleh Rini. Selanjutnya, Ainul Yaqin membahas analisis kekuatan lapangan, penilaian ancaman, analisis risiko, serta perbedaan antara insiden keamanan, ancaman, dan serangan.

Peserta juga mempelajari langkah-langkah memahami ancaman, cara merespons insiden keamanan, serta strategi menghadapi ancaman melalui pendekatan menghadapi, mengurangi risiko, atau menghindar. Seluruh materi diperdalam melalui diskusi kelompok dengan menggunakan studi kasus yang berkaitan dengan pengalaman nyata para pembela HAM.

Pada hari ketiga, kegiatan diawali dengan tinjauan ulang materi, meditasi bersama yang dipandu oleh Rini, dan sesi foto bersama. Selanjutnya, Ainul Yaqin menyampaikan materi mengenai rencana dan protokol keamanan. Materi ini mencakup identifikasi ancaman, kerentanan, kapasitas, analisis risiko, penyusunan langkah-langkah keamanan, hingga penentuan penanggung jawab pelaksanaannya.

Sebagai bentuk praktik, peserta menyusun draf protokol keamanan, baik untuk organisasi maupun individu. Melalui praktik tersebut, materi yang diperoleh diharapkan dapat langsung diterapkan dalam kerja pendampingan di lapangan.

Seluruh rangkaian pelatihan ditutup dengan evaluasi bersama. Evaluasi ini membahas proses pelaksanaan kegiatan, kualitas materi, peran fasilitator, akomodasi, serta kinerja panitia. Sesi tersebut menjadi ruang refleksi bagi seluruh peserta untuk memberikan masukan demi peningkatan kualitas pelatihan pada masa mendatang.

Melalui pelatihan ini, para pembela HAM, khususnya Perempuan Pembela HAM, diharapkan semakin mampu mengidentifikasi risiko, menyusun strategi keamanan, serta membangun sistem perlindungan yang lebih kuat bagi diri sendiri maupun organisasi.

Lebih dari itu, pelatihan ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam mempererat jejaring antarpegiat kemanusiaan di Pulau Flores. Dengan demikian, perjuangan untuk menegakkan hak asasi manusia dapat terus dilakukan secara aman, berkelanjutan, dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.

Penulis: Maria Wihelmi Krisnawati


Bagikan

Komentar