(0382) 23726, +62 812-3784-9185
Belajar dari Kehangatan Umat Feondari: Kisah Tiga Hari yang Menguatkan Iman dan Kepedulian

Belajar dari Kehangatan Umat Feondari: Kisah Tiga Hari yang Menguatkan Iman dan Kepedulian

  • Kategori: Artikel
  • Tanggal 18-06-2026

Tiga hari mungkin terasa singkat jika dihitung dengan kalender. Namun, bagi saya dan teman-teman yang terlibat dalam kegiatan Live-in di Paroki Santo Vincentius a Paulo Feondari, tiga hari itu telah menjadi ruang belajar yang kaya akan pengalaman, persaudaraan, dan makna pelayanan. Kegiatan yang berlangsung pada 12–14 Juni 2026 ini bukan hanya mempertemukan mahasiswa Campus Ministry IFTK Ledalero dan para Suster SSpS dengan umat, tetapi juga menjadi wujud nyata kolaborasi bersama Truk-F Maumere dalam membangun kesadaran sosial di tengah masyarakat.

Perjalanan ini berakar dari pelatihan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang sebelumnya kami ikuti bersama Truk-F Maumere. Dari proses belajar tersebut lahirlah GPSC (Gerakan Peduli Sesama dan Ciptaan), sebuah komunitas yang berada di bawah naungan Campus Ministry dan menjadi wadah bagi kaum muda untuk terlibat lebih aktif dalam karya-karya kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama. Live-in di Feondari menjadi kesempatan bagi kami untuk menerjemahkan pengetahuan yang telah diperoleh ke dalam tindakan nyata bersama masyarakat.

Sejak tiba di Paroki Feondari pada Jumat, 12 Juni 2026, kami langsung merasakan suasana kekeluargaan yang begitu kuat. Setelah dibagi ke dalam kelompok pelayanan di Stasi Parabubu dan Stasi Nabe, kami disambut dengan ramah oleh umat yang telah menantikan kedatangan kami. Senyum hangat dan sapaan sederhana dari masyarakat membuat kami merasa diterima dengan penuh sukacita.

Pengalaman yang paling berkesan adalah ketika kami tinggal bersama keluarga asuh. Rumah-rumah yang mereka buka untuk kami bukan sekadar tempat beristirahat, melainkan ruang untuk berbagi cerita, pengalaman hidup, dan nilai-nilai kehidupan yang sederhana tetapi mendalam. Makan bersama di malam hari, bercengkerama di beranda rumah, serta mendengarkan kisah-kisah kehidupan dari bapak dan mama asuh menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Dalam kesederhanaan mereka, kami menemukan ketulusan yang begitu besar.

Sore hari pertama diisi dengan kegiatan membersihkan dan menghias gereja stasi sebagai persiapan Perayaan Ekaristi. Umat dan peserta Live-in bekerja bersama dengan penuh semangat. Tidak ada sekat antara yang datang melayani dan yang dilayani. Semua terlibat dalam semangat gotong royong yang memperlihatkan wajah Gereja sebagai keluarga Allah yang saling mendukung.

Hari kedua menjadi kesempatan untuk terlibat lebih dekat dengan masyarakat. Berbagai kegiatan sosial dilaksanakan di desa, termasuk sosialisasi mengenai bahaya Tindak Pidana Perdagangan Orang. Selain itu, kami juga mengadakan animasi dan kegiatan edukatif bersama siswa-siswi SD dan SMP. Antusiasme anak-anak yang mengikuti setiap kegiatan menghadirkan suasana penuh sukacita. Melalui permainan, nyanyian, dan berbagai aktivitas kreatif, kami belajar bahwa proses pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui relasi yang hangat dan penuh kegembiraan.

Pada sore hari, kami mengikuti Perayaan Ekaristi bersama umat, kemudian melanjutkan kegiatan dengan katekese mengenai TPPO. Walaupun jumlah peserta yang hadir tidak terlalu banyak, perhatian dan rasa ingin tahu mereka sangat besar. Pertanyaan dan tanggapan yang muncul menunjukkan bahwa isu perdagangan orang merupakan persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan membutuhkan perhatian bersama. Momen tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan sering kali dimulai dari kelompok-kelompok kecil yang memiliki kemauan untuk belajar dan bertindak.

Puncak kegiatan berlangsung pada Minggu, 14 Juni 2026. Dalam Perayaan Ekaristi, mahasiswa Campus Ministry IFTK Ledalero dan para Suster SSpS mendapat kesempatan untuk melayani melalui koor. Lagu-lagu yang dinyanyikan bukan sekadar rangkaian nada, tetapi menjadi ungkapan syukur atas seluruh pengalaman yang telah dilalui bersama umat selama tiga hari. Perayaan Ekaristi tersebut dipimpin oleh P. Ferdinandus Wale Wele, CJD, serta didampingi oleh P. Ignas Ledot, SVD dan P. Lorens Woda, SVD. Kebersamaan seluruh umat, para imam, mahasiswa, dan para suster menghadirkan gambaran nyata tentang Gereja yang hidup dalam semangat persaudaraan dan pelayanan.

Bagi saya, hal yang paling berharga dari seluruh rangkaian kegiatan ini bukanlah banyaknya agenda yang berhasil dilaksanakan, melainkan hubungan persaudaraan yang terjalin selama proses tersebut. Kehangatan umat, perhatian dari keluarga asuh, keceriaan anak-anak, dan kerja sama yang terbangun di antara semua pihak telah meninggalkan kesan yang mendalam. Dari Feondari, saya belajar bahwa pelayanan bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang kesediaan untuk menerima pelajaran hidup dari orang-orang yang kita jumpai.

Ketika kegiatan berakhir dan kami harus kembali ke tempat masing-masing, ada rasa syukur sekaligus haru yang sulit diungkapkan. Tiga hari kebersamaan memang telah berlalu, tetapi nilai-nilai yang kami peroleh akan terus hidup dalam ingatan. Semoga benih-benih kesadaran tentang bahaya TPPO yang telah ditanamkan dapat terus bertumbuh, dan semangat kolaborasi yang telah terbangun dapat menjadi inspirasi bagi karya-karya pelayanan selanjutnya.***Maria Florentina Mardian (Peserta Live-in Paroki Santo Vincentius a Paulo Feondari)












Bagikan

Komentar