Tiga hari mungkin terasa singkat jika dihitung dengan
kalender. Namun, bagi saya dan teman-teman yang terlibat dalam kegiatan Live-in
di Paroki Santo Vincentius a Paulo Feondari, tiga hari itu telah menjadi ruang
belajar yang kaya akan pengalaman, persaudaraan, dan makna pelayanan. Kegiatan
yang berlangsung pada 12–14 Juni 2026 ini bukan hanya mempertemukan mahasiswa
Campus Ministry IFTK Ledalero dan para Suster SSpS dengan umat, tetapi juga
menjadi wujud nyata kolaborasi bersama Truk-F Maumere dalam membangun kesadaran
sosial di tengah masyarakat.
Perjalanan ini berakar dari pelatihan Tindak Pidana
Perdagangan Orang (TPPO) yang sebelumnya kami ikuti bersama Truk-F Maumere.
Dari proses belajar tersebut lahirlah GPSC (Gerakan Peduli Sesama dan Ciptaan),
sebuah komunitas yang berada di bawah naungan Campus Ministry dan menjadi wadah
bagi kaum muda untuk terlibat lebih aktif dalam karya-karya kemanusiaan dan
kepedulian terhadap sesama. Live-in di Feondari menjadi kesempatan bagi kami
untuk menerjemahkan pengetahuan yang telah diperoleh ke dalam tindakan nyata
bersama masyarakat.
Sejak tiba di Paroki Feondari pada Jumat, 12 Juni 2026, kami
langsung merasakan suasana kekeluargaan yang begitu kuat. Setelah dibagi ke
dalam kelompok pelayanan di Stasi Parabubu dan Stasi Nabe, kami disambut dengan
ramah oleh umat yang telah menantikan kedatangan kami. Senyum hangat dan sapaan
sederhana dari masyarakat membuat kami merasa diterima dengan penuh sukacita.
Pengalaman yang paling berkesan adalah ketika kami tinggal
bersama keluarga asuh. Rumah-rumah yang mereka buka untuk kami bukan sekadar
tempat beristirahat, melainkan ruang untuk berbagi cerita, pengalaman hidup,
dan nilai-nilai kehidupan yang sederhana tetapi mendalam. Makan bersama di
malam hari, bercengkerama di beranda rumah, serta mendengarkan kisah-kisah
kehidupan dari bapak dan mama asuh menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
Dalam kesederhanaan mereka, kami menemukan ketulusan yang begitu besar.
Sore hari pertama diisi dengan kegiatan membersihkan dan
menghias gereja stasi sebagai persiapan Perayaan Ekaristi. Umat dan peserta
Live-in bekerja bersama dengan penuh semangat. Tidak ada sekat antara yang
datang melayani dan yang dilayani. Semua terlibat dalam semangat gotong royong
yang memperlihatkan wajah Gereja sebagai keluarga Allah yang saling mendukung.
Hari kedua menjadi kesempatan untuk terlibat lebih dekat
dengan masyarakat. Berbagai kegiatan sosial dilaksanakan di desa, termasuk
sosialisasi mengenai bahaya Tindak Pidana Perdagangan Orang. Selain itu, kami juga
mengadakan animasi dan kegiatan edukatif bersama siswa-siswi SD dan SMP.
Antusiasme anak-anak yang mengikuti setiap kegiatan menghadirkan suasana penuh
sukacita. Melalui permainan, nyanyian, dan berbagai aktivitas kreatif, kami
belajar bahwa proses pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi
juga melalui relasi yang hangat dan penuh kegembiraan.
Pada sore hari, kami mengikuti Perayaan Ekaristi bersama
umat, kemudian melanjutkan kegiatan dengan katekese mengenai TPPO. Walaupun
jumlah peserta yang hadir tidak terlalu banyak, perhatian dan rasa ingin tahu
mereka sangat besar. Pertanyaan dan tanggapan yang muncul menunjukkan bahwa isu
perdagangan orang merupakan persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat
dan membutuhkan perhatian bersama. Momen tersebut menjadi pengingat bahwa
perubahan sering kali dimulai dari kelompok-kelompok kecil yang memiliki
kemauan untuk belajar dan bertindak.
Puncak kegiatan berlangsung pada Minggu, 14 Juni 2026. Dalam
Perayaan Ekaristi, mahasiswa Campus Ministry IFTK Ledalero dan para Suster SSpS
mendapat kesempatan untuk melayani melalui koor. Lagu-lagu yang dinyanyikan
bukan sekadar rangkaian nada, tetapi menjadi ungkapan syukur atas seluruh
pengalaman yang telah dilalui bersama umat selama tiga hari. Perayaan Ekaristi
tersebut dipimpin oleh P. Ferdinandus Wale Wele, CJD, serta didampingi oleh P.
Ignas Ledot, SVD dan P. Lorens Woda, SVD. Kebersamaan seluruh umat, para imam,
mahasiswa, dan para suster menghadirkan gambaran nyata tentang Gereja yang
hidup dalam semangat persaudaraan dan pelayanan.
Bagi saya, hal yang paling berharga dari seluruh rangkaian
kegiatan ini bukanlah banyaknya agenda yang berhasil dilaksanakan, melainkan
hubungan persaudaraan yang terjalin selama proses tersebut. Kehangatan umat,
perhatian dari keluarga asuh, keceriaan anak-anak, dan kerja sama yang
terbangun di antara semua pihak telah meninggalkan kesan yang mendalam. Dari
Feondari, saya belajar bahwa pelayanan bukan hanya tentang memberi, tetapi juga
tentang kesediaan untuk menerima pelajaran hidup dari orang-orang yang kita
jumpai.
Ketika kegiatan berakhir dan kami harus kembali ke tempat masing-masing, ada rasa syukur sekaligus haru yang sulit diungkapkan. Tiga hari kebersamaan memang telah berlalu, tetapi nilai-nilai yang kami peroleh akan terus hidup dalam ingatan. Semoga benih-benih kesadaran tentang bahaya TPPO yang telah ditanamkan dapat terus bertumbuh, dan semangat kolaborasi yang telah terbangun dapat menjadi inspirasi bagi karya-karya pelayanan selanjutnya.***Maria Florentina Mardian (Peserta Live-in Paroki Santo Vincentius a Paulo Feondari)