Ende, 27 Mei 2026
– Sebuah aula sederhana di Rumah Bina Kerahiman Ilahi Ende menjadi saksi
perjalanan penuh makna bagi 13 perempuan anggota Self Help Group (SHG). Selama
tiga hari, mereka tidak hanya mengikuti pelatihan penguatan kapasitas, tetapi
juga menemukan ruang aman untuk berbagi cerita, menyembuhkan luka, dan
membangun harapan baru bersama.
Kegiatan ini difasilitasi oleh Theresia Sri Endras Iswarini, S.H., M.H., mantan Komisioner Komnas Perempuan periode 2020–2024 dan Ketua Sub Komisi Pemulihan Komnas Perempuan, yang memiliki pengalaman panjang dalam advokasi hak-hak perempuan, penanganan kekerasan berbasis gender, pemulihan korban, serta penguatan kapasitas komunitas di berbagai daerah di Indonesia. Dalam pelatihan ini, ia didukung oleh Marselinus Jago dan Wilhelmina Nafis Naru sebagai co-fasilitator yang selama ini aktif mendampingi kelompok masyarakat dan komunitas dampingan TRUK F Ende dalam berbagai program pemberdayaan dan perlindungan kelompok rentan.
Sejak hari pertama, suasana
pelatihan terasa hangat dan penuh keakraban. Peserta diajak mengenal diri
melalui refleksi sederhana tentang harapan, kekhawatiran, dan pengalaman hidup
yang membentuk mereka hingga saat ini. Salah satu sesi yang paling menyentuh
adalah River of Life atau Sungai Kehidupan, ketika peserta
menggambarkan perjalanan hidup mereka tentang kehilangan, kekerasan, perjuangan
ekonomi, pengorbanan sebagai ibu, hingga keberanian untuk bangkit dari berbagai
luka kehidupan.
Air mata tak jarang mengalir
dalam sesi tersebut. Namun, yang lebih terasa adalah tumbuhnya rasa saling
percaya dan solidaritas di antara peserta.
"Di sini saya merasa
akhirnya ada tempat yang mau mendengarkan saya dengan sungguh,"
ungkap salah satu peserta dengan mata berkaca-kaca.
Hari berikutnya diisi dengan
pembelajaran mengenai teknik fasilitasi dan advokasi. Peserta belajar bahwa
seorang fasilitator bukanlah orang yang paling tahu, melainkan seseorang yang
mampu menciptakan ruang agar setiap orang dapat didengar. Berbagai isu yang
dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti kekerasan dalam rumah tangga,
pernikahan anak, diskriminasi, dan akses layanan dasar menjadi bahan diskusi
bersama.
Melalui simulasi dan role
play, peserta juga berlatih menyampaikan pendapat, memimpin diskusi, dan
mengidentifikasi langkah-langkah advokasi sederhana yang dapat dilakukan di
tingkat komunitas.
Pada hari terakhir, peserta
semakin percaya diri untuk berbicara di depan umum dan menyampaikan gagasan
mereka. Sebuah sesi refleksi tentang ketidakadilan gender dan beban ganda
perempuan membuka kesadaran bahwa banyak persoalan yang selama ini dianggap
biasa ternyata merupakan bentuk ketidakadilan yang perlu diubah.
Selain memperkuat
keterampilan teknis, kegiatan ini juga menjadi ruang pemulihan bagi para
peserta. Mereka belajar bahwa pengalaman hidup yang penuh tantangan tidak harus
menjadi beban yang terus dipikul sendiri, tetapi dapat menjadi sumber kekuatan
untuk membantu orang lain.
"Saya merasa beban
saya berkurang karena akhirnya ada tempat untuk didengar. Saya tidak lagi
merasa sendirian," tutur peserta lainnya.
Di akhir kegiatan, para
peserta menyusun rencana aksi sederhana yang akan dilakukan di komunitas
masing-masing. Langkah-langkah kecil tersebut diharapkan menjadi awal dari
perubahan yang lebih besar dalam membangun lingkungan yang aman, setara, dan
saling mendukung.
Kegiatan ini menunjukkan
bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang,
perubahan berawal dari sebuah lingkaran kecil tempat orang-orang saling
mendengar, saling menguatkan, dan berani percaya bahwa mereka mampu menjadi
bagian dari solusi.
Melalui SHG, perempuan tidak hanya belajar berbicara dan memimpin, tetapi juga belajar kembali untuk percaya pada diri sendiri. Dari Ende, tumbuh pesan sederhana namun kuat: kami tidak lagi sendiri, kami belajar, kami tumbuh, dan kami siap menjadi perubahan.***Helmin