(0382) 23726, +62 812-3784-9185
Dari Luka Menjadi Kekuatan: Perjalanan Perempuan SHG Menemukan Suara, Harapan, dan Keberanian

Dari Luka Menjadi Kekuatan: Perjalanan Perempuan SHG Menemukan Suara, Harapan, dan Keberanian

  • Kategori: Artikel
  • Tanggal 27-05-2026

Ende, 27 Mei 2026 – Sebuah aula sederhana di Rumah Bina Kerahiman Ilahi Ende menjadi saksi perjalanan penuh makna bagi 13 perempuan anggota Self Help Group (SHG). Selama tiga hari, mereka tidak hanya mengikuti pelatihan penguatan kapasitas, tetapi juga menemukan ruang aman untuk berbagi cerita, menyembuhkan luka, dan membangun harapan baru bersama.

Kegiatan ini difasilitasi oleh Theresia Sri Endras Iswarini, S.H., M.H., mantan Komisioner Komnas Perempuan periode 2020–2024 dan Ketua Sub Komisi Pemulihan Komnas Perempuan, yang memiliki pengalaman panjang dalam advokasi hak-hak perempuan, penanganan kekerasan berbasis gender, pemulihan korban, serta penguatan kapasitas komunitas di berbagai daerah di Indonesia. Dalam pelatihan ini, ia didukung oleh Marselinus Jago dan Wilhelmina Nafis Naru sebagai co-fasilitator yang selama ini aktif mendampingi kelompok masyarakat dan komunitas dampingan TRUK F Ende dalam berbagai program pemberdayaan dan perlindungan kelompok rentan.

Sejak hari pertama, suasana pelatihan terasa hangat dan penuh keakraban. Peserta diajak mengenal diri melalui refleksi sederhana tentang harapan, kekhawatiran, dan pengalaman hidup yang membentuk mereka hingga saat ini. Salah satu sesi yang paling menyentuh adalah River of Life atau Sungai Kehidupan, ketika peserta menggambarkan perjalanan hidup mereka tentang kehilangan, kekerasan, perjuangan ekonomi, pengorbanan sebagai ibu, hingga keberanian untuk bangkit dari berbagai luka kehidupan.

Air mata tak jarang mengalir dalam sesi tersebut. Namun, yang lebih terasa adalah tumbuhnya rasa saling percaya dan solidaritas di antara peserta.

"Di sini saya merasa akhirnya ada tempat yang mau mendengarkan saya dengan sungguh," ungkap salah satu peserta dengan mata berkaca-kaca.

Hari berikutnya diisi dengan pembelajaran mengenai teknik fasilitasi dan advokasi. Peserta belajar bahwa seorang fasilitator bukanlah orang yang paling tahu, melainkan seseorang yang mampu menciptakan ruang agar setiap orang dapat didengar. Berbagai isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti kekerasan dalam rumah tangga, pernikahan anak, diskriminasi, dan akses layanan dasar menjadi bahan diskusi bersama.

Melalui simulasi dan role play, peserta juga berlatih menyampaikan pendapat, memimpin diskusi, dan mengidentifikasi langkah-langkah advokasi sederhana yang dapat dilakukan di tingkat komunitas.

Pada hari terakhir, peserta semakin percaya diri untuk berbicara di depan umum dan menyampaikan gagasan mereka. Sebuah sesi refleksi tentang ketidakadilan gender dan beban ganda perempuan membuka kesadaran bahwa banyak persoalan yang selama ini dianggap biasa ternyata merupakan bentuk ketidakadilan yang perlu diubah.

Selain memperkuat keterampilan teknis, kegiatan ini juga menjadi ruang pemulihan bagi para peserta. Mereka belajar bahwa pengalaman hidup yang penuh tantangan tidak harus menjadi beban yang terus dipikul sendiri, tetapi dapat menjadi sumber kekuatan untuk membantu orang lain.

"Saya merasa beban saya berkurang karena akhirnya ada tempat untuk didengar. Saya tidak lagi merasa sendirian," tutur peserta lainnya.

Di akhir kegiatan, para peserta menyusun rencana aksi sederhana yang akan dilakukan di komunitas masing-masing. Langkah-langkah kecil tersebut diharapkan menjadi awal dari perubahan yang lebih besar dalam membangun lingkungan yang aman, setara, dan saling mendukung.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, perubahan berawal dari sebuah lingkaran kecil tempat orang-orang saling mendengar, saling menguatkan, dan berani percaya bahwa mereka mampu menjadi bagian dari solusi.

Melalui SHG, perempuan tidak hanya belajar berbicara dan memimpin, tetapi juga belajar kembali untuk percaya pada diri sendiri. Dari Ende, tumbuh pesan sederhana namun kuat: kami tidak lagi sendiri, kami belajar, kami tumbuh, dan kami siap menjadi perubahan.***Helmin



 

Bagikan

Komentar