Membangun Agen Perubahan: TRUK F Maumere Bekali Calon
Katekis dan Mahasiswa Cegah Perdagangan Orang
TRUK
F Maumere menggelar kegiatan Training of Trainer (ToT) dengan tema “Pencegahan
Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan Pendekatan Gender Transformatif” yang
dilaksanakan selama dua hari, 23–24 Januari 2026, bertempat di Aula Eustochia,
TRUK F Maumere.
Kegiatan
ini dihadiri oleh Pater Dr. Anton Camnahas, SVD selaku Ketua Program
Studi Pendidikan dan Pengajaran Kateketik (PKK) IFTK Ledalero, Suster Fransiska
Immakulata, SSpS sebagai Pemimpin TRUK F, dan Mba Karsiwen sebagai Ketua Pusat Kabar Bumi
Indonesia. Kegiatan yang berlangsung
selama dua hari ini diikuti oleh para mahasiswa dari IFTK Ledalero dan
Politeknik Cristo Re Maumere.
Pelaksanaan ToT ini bertujuan untuk membekali calon katekis dan mahasiswa dengan pemahaman yang mendalam mengenai tindak pidana perdagangan orang (TPPO), sekaligus membangun kesadaran kritis akan pentingnya pendekatan gender transformatif dalam upaya pencegahan. Peserta diajak untuk melihat persoalan perdagangan orang tidak hanya sebagai kejahatan hukum, tetapi juga sebagai persoalan kemanusiaan yang berakar pada ketimpangan gender, relasi kuasa yang tidak adil, serta kerentanan sosial dan ekonomi.
Selama
kegiatan, para pemateri
menekankan bahwa peran calon
katekis dan mahasiswa sangat strategis sebagai agen perubahan di tengah
masyarakat. Melalui pendidikan iman, pendampingan pastoral, serta keterlibatan
sosial, mereka diharapkan mampu menyuarakan nilai keadilan, kesetaraan, dan
penghormatan terhadap martabat manusia.
Dalam
sambutannya, Pater Anton menegaskan bahwa isu perdagangan orang merupakan
persoalan serius yang menuntut keterlibatan semua pihak, termasuk gereja dan
dunia pendidikan. Ia menekankan bahwa calon katekis dan mahasiswa memiliki
peran strategis dalam membangun kesadaran umat dan masyarakat. “Perdagangan orang adalah
kejahatan terhadap martabat manusia. Melalui kegiatan ini, para calon katekis
dan mahasiswa dibekali bukan hanya pengetahuan, tetapi juga kepekaan hati dan
keberanian untuk bersikap serta bertindak di tengah realitas umat,” ujar Pater
Anton.
Suster
Fransiska Immakulata, SSpS, selaku Pemimpin TRUK F, menegaskan bahwa kegiatan
ini merupakan bagian dari komitmen TRUK F dalam membangun kesadaran kolektif
dan memperkuat jejaring pencegahan perdagangan orang melalui pendidikan dan
pendampingan berkelanjutan.
Sementara
itu, Mba Karsiwen selaku narasumber menyampaikan materi mengenai pencegahan
tindak pidana perdagangan orang dengan pendekatan gender transformatif. Dalam
paparannya, ia menjelaskan bahwa perdagangan orang sering kali berakar pada
relasi gender yang tidak setara, minimnya akses informasi, serta kondisi sosial
ekonomi yang rentan. “Pendekatan
gender transformatif mengajak kita untuk tidak hanya mengenali korban, tetapi
juga mengubah cara pandang, pola relasi, dan struktur sosial yang membuat perempuan dan anak menjadi rentan terhadap
perdagangan orang,” jelas Mba Karsiwen.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta mengikuti berbagai sesi materi, diskusi kelompok, refleksi bersama, serta pembahasan studi kasus yang berkaitan dengan realitas perdagangan orang, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur. Metode partisipatif ini membantu peserta untuk mengembangkan kepekaan sosial, keberanian bersikap, serta kemampuan menyampaikan edukasi pencegahan TPPO di lingkungan masing-masing.
Melalui
kegiatan ToT ini, TRUK F Maumere berharap para peserta tidak hanya memperoleh
pengetahuan, tetapi juga terdorong untuk melakukan aksi nyata di komunitas, kampus,
dan paroki, sehingga upaya pencegahan perdagangan orang dapat terus diperluas
dan memberikan dampak yang nyata bagi masyarakat.
(Maria Wihelmi Krisnawati)