Maumere, 28 Januari 2026, proses penyusunan Rencana
Strategis (Renstra) TRUK F Maumere hari ketiga berlangsung dalam suasana
reflektif dan mendalam di Aula Eustochia TRUK F Maumere. Wajah-wajah yang sama masih terlihat di pertemuan hari
ketiga ini, antara lain Pater
Hubert Thomas, SVD, Pater Marselinus Vande Raring SVD, beberapa anggota
JPIC SVD Ende, Suster Fransiska Imakulata, SSpS, para staf TRUK F Maumere–Ende,
serta beberapa orang penyintas. Namun, ada pula sosok baru yang terlihat, yakni Pater Lukas Jua, SVD yang hadr sebagai
narasumber.
Berbeda dari hari-hari sebelumnya, kegiatan hari
ketiga difokuskan pada refleksi biblis sebagai dasar spiritual dan teologis
dalam merumuskan arah Renstra TRUK F Maumere periode 2026–2030. Kegiatan ini
diawali dengan pendalaman materi
berupa refleksi biblis
yang dibawakan oleh Pater Hubert,
SVD.
Melalui bacaan dan pemaparan yang sistematis, Pater
Hubert, SVD mengajak peserta untuk memahami secara mendalam apa
itu refleksi biblis, peranan Sabda Allah dalam membaca realitas kehidupan,
serta metode dan langkah-langkah refleksi biblis yang dapat digunakan untuk
menanggapi persoalan-persoalan sosial. Ia menegaskan bahwa refleksi biblis bukan
sekadar kegiatan rohani, melainkan sebuah proses iman yang membantu umat
membaca realitas penderitaan manusia dalam terang Sabda Allah. “Sabda
Allah tidak pernah jauh dari realitas manusia. Justru di sanalah Sabda menyapa
luka, ketidakadilan, dan penderitaan, sekaligus menggerakkan kita untuk
terlibat dalam karya pembebasan,” tegasnya.
Setelah mendalami materi refleksi biblis, peserta
kemudian dibagi ke dalam dua kelompok untuk melakukan merefleksikan empat masalah pokok baru yang akan menjadi dasar penyusunan Renstra TRUK
F Maumere 2026–2030, yaitu meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan
anak, meningkatnya jumlah korban Tindak Pidana Perdagangan
Orang (TPPO), meningkatnya kasus HIV dan AIDS, serta belum
adanya kesadaran tentang kebersihan dan kelestarian lingkungan hidup.
Dalam kerja kelompok, peserta merefleksikan
masing-masing persoalan melalui delapan langkah refleksi biblis. Delapan langkah itu
yakni mengidentifikasi pokok masalah, menemukan sebab kunci, menawarkan bacaan
Kitab Suci, memilih bacaan yang relevan, mengemukakan alasan pemilihan teks,
menganalisis teks dari segi sastra, menggali pesan teologis, serta merumuskan
nilai-nilai yang menjadi dasar sikap dan tindakan pelayanan.
Proses refleksi ini membantu peserta mengaitkan
pengalaman konkret para korban dan realitas sosial dengan Sabda Allah secara
kritis, kontekstual, dan transformatif. Keterlibatan para penyintas dalam
proses ini turut memperkaya refleksi, karena realitas penderitaan dan harapan
mereka menjadi bagian penting dalam pembacaan teks Kitab Suci.
Seluruh rangkaian materi refleksi biblis hingga tahap
kerja kelompok difasilitasi oleh Pater Hubert, SVD. Sementara pembahasan pleno
atas hasil kerja kelompok dipandu dan didalami bersama Pater Lukas, SVD.
Dalam sesi pleno, Pater Lukas,
SVD menegaskan bahwa refleksi
biblis perlu bermuara pada keberpihakan nyata terhadap korban dan komitmen
pelayanan yang berkeadilan. “Renstra yang lahir dari refleksi biblis akan menuntun
TRUK F untuk tetap setia pada misi pembelaan martabat manusia dan keutuhan
ciptaan. Sabda Allah menjadi kompas yang meneguhkan arah pelayanan,” ungkap
Pater Lukas, SVD.
Melalui kegiatan hari ketiga ini, TRUK F Maumere
menegaskan komitmennya untuk menyusun Renstra yang tidak hanya berbasis
analisis sosial dan kebutuhan lapangan, tetapi juga berakar kuat pada Sabda
Allah. Refleksi biblis menjadi dasar spiritual yang menuntun TRUK F dalam
merespons luka-luka zaman secara berani, manusiawi, dan penuh harapan.
(MARIA
WIHELMI KRISNAWATI)