Di
Pertemuan Hari Kedua, TRUK F Maumere Bedah Empat Akar Masalah Renstra
Menggunakan Analisis Sosial
Selasa, 27 Januari 2026, penyusunan Rencana Strategis
(Renstra) Pelayanan TRUK F Maumere 2026–2030 memasuki hari kedua. Pertemuan yang berlangsung di Aula Eustochia TRUK F Maumere ini diisi oleh diskusi
yang mendalam dan kritis. Pertemuan ini menghadirkan Pater Huber
Thomas, SVD sebagai narasumber
utama. Di samping itu, hadir pula Pater Marselinus Vande
Raring sebagai relawan dari TRUK F, anggota JPIC SVD Ende, Suster
Fransiska Imakulata, SSpS pimpinan TRUK F Maumere, para staf TRUK F
Maumere-Ende, perwakilan Suster dari SSpS, serta beberapa penyintas yang dihadirkan
oleh TRUK F.
Pertemuan kali ini
diawali dengan pleno diskusi kelompok. Diskusi hari itu menjadi ruang
berbagi pengalaman dan penyatuan pandangan atas realitas sosial yang
sedang dan akan dihadapi dalam lima tahun ke depan. Dari proses refleksi
bersama tersebut, peserta berhasil menyepakati empat masalah pokok baru yang
akan menjadi fokus utama arah pelayanan TRUK F Maumere periode 2026–2030.
Keempat masalah tersebut meliputi meningkatnya kasus
kekerasan terhadap perempuan dan anak, bertambahnya korban Tindak Pidana
Perdagangan Orang (TPPO), meningkatnya kasus HIV dan AIDS, serta masih
rendahnya kesadaran masyarakat akan kebersihan dan kelestarian lingkungan
hidup. Pleno ini menjadi penting karena membantu peserta melihat
persoalan-persoalan tersebut sebagai bagian dari krisis social, yang saling
berkaitan dan berdampak langsung pada kelompok rentan.
Selepas pleno,
pertemuan dilanjutkan dengan materi analisis sosial yang dibawakan oleh Pater
Hubert Thomas, SVD. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa analisis sosial
merupakan langkah mendasar bagi lembaga pelayanan agar tidak terjebak pada
program yang bersifat reaktif dan karitatif semata. “Analisis sosial
membantu kita membaca realitas secara jujur dan kritis. Pelayanan yang baik
tidak dimulai dari program, tetapi dari keberanian melihat akar persoalan yang
dialami masyarakat,” tegas Pater Hubert Thomas, SVD.
Dalam sesi ini, peserta diajak untuk menelusuri
tahapan analisis sosial yang mencakup identifikasi masalah, pengelompokan
masalah, serta analisis masalah secara mendalam. Penekanan khusus diberikan
pada penetapan masalah pokok dan penelusuran sebab-sebab kunci yang melahirkan
persoalan kekerasan, TPPO, HIV/AIDS, dan krisis lingkungan hidup.
Lebih lanjut, Pater
Hubert juga mengingatkan bahwa banyak persoalan sosial lahir dari struktur yang
tidak adil, budaya diam, relasi kuasa yang timpang, serta lemahnya kesadaran
kritis masyarakat. “Kalau kita hanya menangani akibatnya, masalah akan
terus berulang. Renstra ini harus berani menyentuh penyebabnya, sekalipun itu menuntut
perubahan cara berpikir dan cara bekerja kita,” tambahnya.
Diskusi berlangsung aktif dan partisipatif, ditandai dengan keaktifan peserta untuk berbagi pengalaman serta memberikan
analisis terhadap pelayanan TRUK F Maumere selama ini. Proses interaktif
ini membantu lembaga untuk tidak hanya mencatat masalah, tetapi juga memetakan
arah strategis pelayanan yang lebih kontekstual, berkelanjutan, dan
transformatif.
Hari kedua penyusunan Renstra ini menjadi tonggak
penting dalam perjalanan TRUK F Maumere dalam menyusun arah pelayanan
2026–2030, dengan menempatkan analisis sosial sebagai fondasi utama. Melalui
proses ini, TRUK F Maumere menegaskan komitmennya untuk terus berpihak pada
martabat manusia, keadilan sosial, dan kelestarian ciptaan dalam setiap karya
pelayanan.***