(0382) 23726, +62 812-3784-9185
Mendorong Kampus Inklusif, TRUK-F dan IFTK Ledalero Identifikasi Aksesibilitas Kampus

Mendorong Kampus Inklusif, TRUK-F dan IFTK Ledalero Identifikasi Aksesibilitas Kampus

Maumere, 20 September 2026 — Perkumpulan Relawan Kemanusiaan Flores (TRUK-F/RKF) bersama Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero menyelenggarakan Lokakarya Pengembangan Materi Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) pada 19–20 September 2026. Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai I Kampus II IFTK Ledalero, Jl. Wairklau, Maumere, ini diarahkan untuk memperkuat perspektif kesetaraan, disabilitas, dan inklusi sosial dalam lingkungan perguruan tinggi, khususnya melalui pengembangan materi Orientasi Mahasiswa Baru. Lokakarya ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga mempertemukan pengalaman, perspektif dan praktik dari berbagai pihak yang selama ini terlibat dalam isu disabilitas dan inklusi sosial. Salah satu narasumber utama dalam kegiatan ini adalah Ibu Serafina Bete, pendiri Perkumpulan Tuna Daksa Kristiani (PERSANI) NTT, yang berbagi pengalaman dan perspektif mengenai disabilitas serta pentingnya membangun lingkungan yang menghormati hak dan martabat penyandang disabilitas. Keterlibatan penyandang disabilitas juga menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Dalam kegiatan ini hadir FORSADIKA, yang diwakili oleh Nano dan Febi, bersama pendamping mereka. Kehadiran mereka memberikan ruang bagi peserta untuk belajar langsung dari pengalaman dan perspektif penyandang disabilitas dalam melihat aksesibilitas, partisipasi dan kehidupan di lingkungan pendidikan.

Selain itu, Ibu Elen Parera hadir sebagai narasumber yang secara khusus membawakan materi mengenai advokasi hak-hak penyandang disabilitas di Kabupaten Sikka. Materi ini menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran yang menghubungkan pemahaman GEDSI dengan konteks lokal serta kebutuhan advokasi penyandang disabilitas di Kabupaten Sikka. Lokakarya dilaksanakan secara partisipatif dengan melibatkan mahasiswa/i dan dosen IFTK Ledalero. Berbagai materi dibahas, mulai dari konsep dasar GEDSI, kesetaraan dan relasi kuasa, konsep dan ragam disabilitas, hak penyandang disabilitas, etika berinteraksi, aksesibilitas, inklusi sosial, hingga advokasi hak penyandang disabilitas di Kabupaten Sikka. Proses pembelajaran juga dilengkapi dengan diskusi kelompok, identifikasi kebutuhan dan tantangan, serta penyusunan rencana tindak lanjut bersama.


Survei aksesibilitas 

Peserta diajak memahami bahwa lingkungan pendidikan yang inklusif tidak hanya berkaitan dengan keberadaan fasilitas, tetapi juga menyangkut bagaimana setiap warga kampus dapat berpartisipasi secara aman, setara dan bermakna. Perspektif disabilitas berbasis hak menjadi salah satu bagian penting dalam proses pembelajaran. Peserta diperkenalkan pada model sosial dan pendekatan berbasis hak, ragam disabilitas, hak penyandang disabilitas, serta pentingnya menghilangkan hambatan lingkungan dan stigma. Peserta juga memperoleh prinsip-prinsip praktis dalam berinteraksi dengan penyandang disabilitas, seperti bertanya sebelum membantu, tidak berasumsi, berkomunikasi secara langsung dan setara, serta menghormati alat bantu dan pilihan individu.

Belajar dari pengalaman langsung penyandang disabilitas

Kehadiran Nano dan Febi dari FORSADIKA menjadi salah satu bagian penting dalam membangun pembelajaran yang lebih kontekstual. Perspektif penyandang disabilitas memberikan kesempatan bagi peserta untuk melihat bahwa inklusi bukan hanya persoalan konsep atau kebijakan, tetapi juga berkaitan dengan pengalaman sehari-hari dalam mengakses ruang, informasi, layanan dan kesempatan untuk berpartisipasi.

Hal ini sejalan dengan pendekatan lokakarya yang menempatkan inklusi sosial sebagai partisipasi yang bermakna, bukan sekadar kehadiran. Peserta diajak mengidentifikasi berbagai hambatan serta tanggung jawab bersama untuk menciptakan perubahan.

Kehadiran Ibu Serafina Bete sebagai pendiri PERSANI NTT juga memperkaya perspektif kegiatan melalui pengalaman dalam isu penyandang disabilitas. Sementara itu, paparan Ibu Elen Parera mengenai advokasi hak penyandang disabilitas di Kabupaten Sikka membantu peserta memahami pentingnya kerja-kerja advokasi di tingkat lokal. Dengan demikian, proses pembelajaran menghubungkan perspektif individu, pengalaman organisasi dan konteks advokasi di daerah. Sebagai bagian dari proses lokakarya, dilakukan identifikasi aksesibilitas Kampus II IFTK Ledalero pada 20 September 2026. Hasil identifikasi menemukan 11 aspek atau fasilitas yang perlu mendapatkan perhatian, baik berupa fasilitas yang telah tersedia namun membutuhkan perbaikan maupun fasilitas yang belum tersedia. Beberapa temuan tersebut antara lain kemiringan ramp di area lobi, kantin dan gerbang yang dinilai terlalu curam; belum memadainya guiding block dan warning block; fasilitas lift yang belum sepenuhnya aksesibel bagi penyandang disabilitas netra; keterbatasan informasi Braille; serta toilet aksesibel yang masih membutuhkan peningkatan.


Survei aksesibilitas 

Selain itu, identifikasi juga menemukan perlunya penunjuk arah yang lebih aksesibel, perbaikan akses menuju area Lopo, peningkatan keterlibatan sumber daya manusia dengan perspektif disabilitas, penyesuaian beberapa pintu ruangan bagi pengguna kursi roda, penguatan penanda visual bagi penyandang low vision, serta pengembangan sistem alarm atau penanda keadaan darurat yang mempertimbangkan kebutuhan pengguna dengan berbagai jenis disabilitas.

Hasil survei tersebut tidak dimaksudkan untuk menyalahkan pihak tertentu, melainkan menjadi gambaran kondisi aksesibilitas kampus pada saat survei dan bahan refleksi bersama. Aksesibilitas dipahami secara lebih luas, tidak hanya berkaitan dengan fasilitas fisik, tetapi juga informasi, komunikasi, keselamatan, pelayanan, proses pembelajaran, sikap dan budaya warga kampus.

Dari lokakarya menuju perubahan

Lokakarya menghasilkan sejumlah arah tindak lanjut, antara lain finalisasi dan integrasi materi GEDSI ke dalam Orientasi Mahasiswa Baru, audit aksesibilitas kampus secara lebih menyeluruh, penetapan prioritas perbaikan fasilitas, peningkatan akses informasi, pelibatan penyandang disabilitas dalam perencanaan dan evaluasi, serta penguatan kapasitas warga kampus mengenai GEDSI dan budaya kampus inklusif.

Tindak lanjut lainnya mencakup pengembangan mekanisme perlindungan dan pengaduan yang aman dan dapat diakses, penjajakan focal point atau unit GEDSI, serta monitoring dan evaluasi secara berkala terhadap perbaikan aksesibilitas dan implementasi materi maupun praktik GEDSI. Bagi TRUK-F/RKF dan IFTK Ledalero, proses ini menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan pendidikan tinggi yang lebih aman, setara dan inklusif. Keterlibatan organisasi, penyandang disabilitas, pendamping, akademisi dan mahasiswa menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa pembahasan mengenai GEDSI tidak berhenti pada pemahaman teoritis, tetapi dapat diterjemahkan ke dalam praktik.

Ke depan, tindak lanjut diharapkan dilakukan secara bertahap melalui kolaborasi antara pimpinan kampus, dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, organisasi mahasiswa, penyandang disabilitas, TRUK-F/RKF, serta pihak terkait lainnya. Dengan demikian, GEDSI diharapkan tidak berhenti sebagai materi dalam kegiatan orientasi mahasiswa baru, tetapi berkembang menjadi bagian dari praktik, layanan, kebijakan dan budaya IFTK Ledalero.***

Bagikan

Komentar