Maumere, 20 September 2026 — Perkumpulan Relawan Kemanusiaan Flores
(TRUK-F/RKF) bersama Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero
menyelenggarakan Lokakarya Pengembangan Materi Gender Equality, Disability, and
Social Inclusion (GEDSI) pada 19–20 September 2026. Kegiatan yang berlangsung
di Aula Lantai I Kampus II IFTK Ledalero, Jl. Wairklau, Maumere, ini diarahkan
untuk memperkuat perspektif kesetaraan, disabilitas, dan inklusi sosial dalam
lingkungan perguruan tinggi, khususnya melalui pengembangan materi Orientasi
Mahasiswa Baru. Lokakarya ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan,
tetapi juga mempertemukan pengalaman, perspektif dan praktik dari berbagai
pihak yang selama ini terlibat dalam isu disabilitas dan inklusi sosial. Salah
satu narasumber utama dalam kegiatan ini adalah Ibu Serafina Bete, pendiri
Perkumpulan Tuna Daksa Kristiani (PERSANI) NTT, yang berbagi pengalaman dan
perspektif mengenai disabilitas serta pentingnya membangun lingkungan yang
menghormati hak dan martabat penyandang disabilitas. Keterlibatan penyandang
disabilitas juga menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Dalam
kegiatan ini hadir FORSADIKA, yang diwakili oleh Nano dan Febi, bersama
pendamping mereka. Kehadiran mereka memberikan ruang bagi peserta untuk belajar
langsung dari pengalaman dan perspektif penyandang disabilitas dalam melihat
aksesibilitas, partisipasi dan kehidupan di lingkungan pendidikan.
Selain itu, Ibu Elen Parera hadir sebagai narasumber yang secara khusus
membawakan materi mengenai advokasi hak-hak penyandang disabilitas di Kabupaten
Sikka. Materi ini menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran yang menghubungkan
pemahaman GEDSI dengan konteks lokal serta kebutuhan advokasi penyandang
disabilitas di Kabupaten Sikka. Lokakarya dilaksanakan secara partisipatif
dengan melibatkan mahasiswa/i dan dosen IFTK Ledalero. Berbagai materi dibahas,
mulai dari konsep dasar GEDSI, kesetaraan dan relasi kuasa, konsep dan ragam
disabilitas, hak penyandang disabilitas, etika berinteraksi, aksesibilitas,
inklusi sosial, hingga advokasi hak penyandang disabilitas di Kabupaten Sikka.
Proses pembelajaran juga dilengkapi dengan diskusi kelompok, identifikasi
kebutuhan dan tantangan, serta penyusunan rencana tindak lanjut bersama.
Peserta diajak memahami bahwa lingkungan pendidikan yang inklusif tidak
hanya berkaitan dengan keberadaan fasilitas, tetapi juga menyangkut bagaimana
setiap warga kampus dapat berpartisipasi secara aman, setara dan bermakna. Perspektif
disabilitas berbasis hak menjadi salah satu bagian penting dalam proses
pembelajaran. Peserta diperkenalkan pada model sosial dan pendekatan berbasis
hak, ragam disabilitas, hak penyandang disabilitas, serta pentingnya
menghilangkan hambatan lingkungan dan stigma. Peserta juga memperoleh
prinsip-prinsip praktis dalam berinteraksi dengan penyandang disabilitas,
seperti bertanya sebelum membantu, tidak berasumsi, berkomunikasi secara
langsung dan setara, serta menghormati alat bantu dan pilihan individu.
Belajar dari pengalaman langsung penyandang disabilitas
Kehadiran Nano dan Febi dari FORSADIKA menjadi salah satu bagian penting
dalam membangun pembelajaran yang lebih kontekstual. Perspektif penyandang
disabilitas memberikan kesempatan bagi peserta untuk melihat bahwa inklusi
bukan hanya persoalan konsep atau kebijakan, tetapi juga berkaitan dengan
pengalaman sehari-hari dalam mengakses ruang, informasi, layanan dan kesempatan
untuk berpartisipasi.
Hal ini sejalan dengan pendekatan lokakarya yang menempatkan inklusi
sosial sebagai partisipasi yang bermakna, bukan sekadar kehadiran. Peserta
diajak mengidentifikasi berbagai hambatan serta tanggung jawab bersama untuk
menciptakan perubahan.
Kehadiran Ibu Serafina Bete sebagai pendiri PERSANI NTT juga memperkaya
perspektif kegiatan melalui pengalaman dalam isu penyandang disabilitas.
Sementara itu, paparan Ibu Elen Parera mengenai advokasi hak penyandang
disabilitas di Kabupaten Sikka membantu peserta memahami pentingnya kerja-kerja
advokasi di tingkat lokal. Dengan demikian, proses pembelajaran menghubungkan
perspektif individu, pengalaman organisasi dan konteks advokasi di daerah. Sebagai
bagian dari proses lokakarya, dilakukan identifikasi aksesibilitas Kampus II
IFTK Ledalero pada 20 September 2026. Hasil identifikasi menemukan 11 aspek
atau fasilitas yang perlu mendapatkan perhatian, baik berupa fasilitas yang
telah tersedia namun membutuhkan perbaikan maupun fasilitas yang belum
tersedia. Beberapa temuan tersebut antara lain kemiringan ramp di area lobi,
kantin dan gerbang yang dinilai terlalu curam; belum memadainya guiding block
dan warning block; fasilitas lift yang belum sepenuhnya aksesibel bagi
penyandang disabilitas netra; keterbatasan informasi Braille; serta toilet
aksesibel yang masih membutuhkan peningkatan.
Selain itu, identifikasi juga menemukan perlunya penunjuk arah yang
lebih aksesibel, perbaikan akses menuju area Lopo, peningkatan keterlibatan
sumber daya manusia dengan perspektif disabilitas, penyesuaian beberapa pintu
ruangan bagi pengguna kursi roda, penguatan penanda visual bagi penyandang low
vision, serta pengembangan sistem alarm atau penanda keadaan darurat yang
mempertimbangkan kebutuhan pengguna dengan berbagai jenis disabilitas.
Hasil survei tersebut tidak dimaksudkan untuk menyalahkan pihak
tertentu, melainkan menjadi gambaran kondisi aksesibilitas kampus pada saat
survei dan bahan refleksi bersama. Aksesibilitas dipahami secara lebih luas,
tidak hanya berkaitan dengan fasilitas fisik, tetapi juga informasi,
komunikasi, keselamatan, pelayanan, proses pembelajaran, sikap dan budaya warga
kampus.
Dari lokakarya menuju perubahan
Lokakarya menghasilkan sejumlah arah tindak lanjut, antara lain
finalisasi dan integrasi materi GEDSI ke dalam Orientasi Mahasiswa Baru, audit
aksesibilitas kampus secara lebih menyeluruh, penetapan prioritas perbaikan
fasilitas, peningkatan akses informasi, pelibatan penyandang disabilitas dalam
perencanaan dan evaluasi, serta penguatan kapasitas warga kampus mengenai GEDSI
dan budaya kampus inklusif.
Tindak lanjut lainnya mencakup pengembangan mekanisme perlindungan dan
pengaduan yang aman dan dapat diakses, penjajakan focal point atau unit GEDSI,
serta monitoring dan evaluasi secara berkala terhadap perbaikan aksesibilitas
dan implementasi materi maupun praktik GEDSI. Bagi TRUK-F/RKF dan IFTK
Ledalero, proses ini menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan pendidikan
tinggi yang lebih aman, setara dan inklusif. Keterlibatan organisasi,
penyandang disabilitas, pendamping, akademisi dan mahasiswa menjadi bagian
penting untuk memastikan bahwa pembahasan mengenai GEDSI tidak berhenti pada
pemahaman teoritis, tetapi dapat diterjemahkan ke dalam praktik.
Ke depan, tindak lanjut diharapkan dilakukan secara bertahap melalui
kolaborasi antara pimpinan kampus, dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan,
organisasi mahasiswa, penyandang disabilitas, TRUK-F/RKF, serta pihak terkait
lainnya. Dengan demikian, GEDSI diharapkan tidak berhenti sebagai materi dalam
kegiatan orientasi mahasiswa baru, tetapi berkembang menjadi bagian dari
praktik, layanan, kebijakan dan budaya IFTK Ledalero.***