Hari Ham Sedunia 2025: Jika
Ruang Aman Benar-Benar Ada, Mengapa Perempuan Masih Diserang di Mana-Mana?
Hari ini, 10
Desember 2025, dunia berhenti sejenak untuk mengingat satu hal paling mendasar
dari keberadaan manusia: martabat. Hari Hak Asasi Manusia Sedunia bukanlah
panggung seremonial tahunan, melainkan cermin besar yang memantulkan wajah
kemanusian kita saat ini retak, lelah, dan masih penuh luka. Di Indonesia,
termasuk Kabupaten Sikka, kemanusiaan belum benarbenar pulih. Kita masih hidup
di tengah negeri yang tampak berjalan, tetapi sesungguhnya sedang tidak
baik-baik saja.
Dari sengketa lahan hingga pengusuran atas nama
pembangunan, rumah dan tanah ruang hidup manusia dirampas, dipindahkan, dan
ditinggalkan tanpa suara. Bencana alam datang sili berganti, bukan sekadar
sebagai fenomena alam, melainkan tanda bahwa ada tata kelola lingkungan yang
telah lama diabaikan. Di Sikka, masyarakat masih merasakan pahitnya pemulihan
yang tertunda. Rumah hilang, ladang punah, akses hidup berubah, namun negara
sering datang terlambat bahkan kadang hanya sebatas janji.
Yang lebih tragis, pelanggaran kemanusiaan tidak
selalu tampak dramatis. Ada bentuk lain yang bekerja diam-diam: hukum yang
lamban, kebijakan yang tak berpihak, kekuasaan yang menutup pintu bagi suara
kecil, dan rasa aman yang perlahan hilang dari ruang hidup perempuan dan anak.
Ketidakadilan itu hadir bukan hanya dalam tindak kekerasan yang terlihat,
tetapi juga dalam pembiaran yang sistematis. Dan pembiaran di manapun ia
terjadiselalu merupakan bentuk kekerasan itu sendiri.
Hari ini juga menjadi puncak penutupan kampanye 16
Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, yang sejak 25 November menggaungkan
tema nasional, “Kita Punya Andil, Kembalikan Ruang Aman.”Seruan ini bukan
kalimat indah dalam poster kampanye. Ia adalah nadi dari perjuangan yang nyata:
ruang aman bagi perempuan tidak boleh dinegosiasikan. Ruang aman adalah hak,
bukan kemurahan hati, bukan toleransi sosial yang sewaktu-waktu bisa dicabut.
Jika dulu perempuan terutama disakiti lewat tangan,
kini teknologi menambahkan babak baru dalam kekerasan. Kampanye global UNiTE
mengangkat tema “Akhiri Kekerasan Digital terhadap Semua Perempuan dan Anak
Perempuan,” menandai babak baru: dunia maya yang dulu dianggap tempat bermain,
berekspresi, dan belajar, kini berubah menjadi ruang perburuan, pemerasan,
pengawasan, dan penghukuman.
Di Kabupaten Sikka, dalam pendampingan TRUK-F, kita
melihat bahwa kekerasan digital bukan teori global semata. Ia hidup dan
menyakitkan. Ada perempuan yang tubuhnya dipajang di layar tanpa izin. Ada anak
perempuan yang diperas melalui pesan gelap. Ada korban yang memilih bungkam karna
takut, malu, dan merasa tak punya ruang aman bahkan di dalam dirinya sendiri.
Kekerasan digital menjangkau lebih cepat daripada hukum, menyebar lebih luas
daripada perlindungan, dan meninggalkan trauma yang tak hanya melukai tubuh,
tetapi juga identitas, harga diri, dan masa depan.
Dalam kondisi ini, peringatan Hari HAM Sedunia tidak
boleh menjadi catatan kaki dalam rapat tahunn, atau sekadar unggahan media social
yang lalu dilupakan. Peringatan ini harus menjadi titik jeda, tempat kita
mengakui bahwa negeri ini membutuhkan keberpihakan yang lebih radikal terhadap
manusia terutama mereka yang paling rentan. Hak atas tanah, hak bebas dari
kekerasan, hak atas lingkungan hidup yang layak, hak atas keadilan, hak atas
ruang aman, semuanya bukan barang mewah. Semua itu adalah dasar dari kehidupan
yang bermartabat.
Kita tidak bisa membiarkan perempuan terus kehilangan
ruang aman, baik di jalan maupun dalam genggaman ponsel. Kita tidak bisa
membiarkan anak-anak tumbuh dalam dunia yang mengawasi mereka bukan untuk
mendidik, tetapi untuk memerangkap. Kita tidak bisa membiarkan penyintas
bencana, penyintas kekerasan, dan korban pelanggaran HAM lainnya berjalan
sendiri dalam gelap, sementara negara dan masyarakat menonton dari kejauhan.
Hari ini, ketika 16 Hari Anti Kekerasan terhadap
Perempuan (16HAKTP) resmi ditutup, kita
ditantang untuk tidak ikut menutup mata. TRUK F mengajak setiap orang, setiap
komunitas, setiap lembaga, setiap pemegang kekuasaan: ruang aman harus
dikembalikan, bukan hanya dijanjikan. Bukan hanya dibicarakan dalam seminar,
tetapi diwujudkan dalam sistem, kebijakan, pelayanan, respons cepat, dan
keberpihakan nyata.
Hari HAM Sedunia 2025 mengingatkan kita bahwa
kemanusiaan adalah kerja yang melelahkan, tetapi tidak bisa dihentikan. Kita
punya andil dan itu artinya kita juga punya tanggung jawab. Jika kita sungguh
ingin memulihkan ruang hidup dan memelihara martabat manusia, maka tak boleh
ada lagi pembiaran terhadap kekerasan, baik yang merobek tubuh maupun yang
menyelinap di balik layar
Kemanusiaan tidak akan
pulih hanya dengan mengingat. Ia hanya pulih jika kita berani bertindak.
Selamat Hari HAM Sedunia 2025. Semoga perigatan ini bukan sekadar mengenang
hak, tetapi menegakkan kembali martabat, keberanian, dan keadilan, terutama
bagi mereka yang selama ini dipaksa diam.***