(0382) 23726, +62 812-3784-9185
Hari HAM Sedunia 2025: Jika Ruang Aman Benar-Benar Ada, Mengapa Perempuan Masih Diserang di Mana-Mana?

Hari HAM Sedunia 2025: Jika Ruang Aman Benar-Benar Ada, Mengapa Perempuan Masih Diserang di Mana-Mana?

  • Kategori: Artikel
  • Tanggal 10-12-2025

Hari Ham Sedunia 2025: Jika Ruang Aman Benar-Benar Ada, Mengapa Perempuan Masih Diserang di Mana-Mana?

 

Hari ini, 10 Desember 2025, dunia berhenti sejenak untuk mengingat satu hal paling mendasar dari keberadaan manusia: martabat. Hari Hak Asasi Manusia Sedunia bukanlah panggung seremonial tahunan, melainkan cermin besar yang memantulkan wajah kemanusian kita saat ini retak, lelah, dan masih penuh luka. Di Indonesia, termasuk Kabupaten Sikka, kemanusiaan belum benarbenar pulih. Kita masih hidup di tengah negeri yang tampak berjalan, tetapi sesungguhnya sedang tidak baik-baik saja.

Dari sengketa lahan hingga pengusuran atas nama pembangunan, rumah dan tanah ruang hidup manusia dirampas, dipindahkan, dan ditinggalkan tanpa suara. Bencana alam datang sili berganti, bukan sekadar sebagai fenomena alam, melainkan tanda bahwa ada tata kelola lingkungan yang telah lama diabaikan. Di Sikka, masyarakat masih merasakan pahitnya pemulihan yang tertunda. Rumah hilang, ladang punah, akses hidup berubah, namun negara sering datang terlambat bahkan kadang hanya sebatas janji.

Yang lebih tragis, pelanggaran kemanusiaan tidak selalu tampak dramatis. Ada bentuk lain yang bekerja diam-diam: hukum yang lamban, kebijakan yang tak berpihak, kekuasaan yang menutup pintu bagi suara kecil, dan rasa aman yang perlahan hilang dari ruang hidup perempuan dan anak. Ketidakadilan itu hadir bukan hanya dalam tindak kekerasan yang terlihat, tetapi juga dalam pembiaran yang sistematis. Dan pembiaran di manapun ia terjadiselalu merupakan bentuk kekerasan itu sendiri.

Hari ini juga menjadi puncak penutupan kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, yang sejak 25 November menggaungkan tema nasional, “Kita Punya Andil, Kembalikan Ruang Aman.”Seruan ini bukan kalimat indah dalam poster kampanye. Ia adalah nadi dari perjuangan yang nyata: ruang aman bagi perempuan tidak boleh dinegosiasikan. Ruang aman adalah hak, bukan kemurahan hati, bukan toleransi sosial yang sewaktu-waktu bisa dicabut.

Jika dulu perempuan terutama disakiti lewat tangan, kini teknologi menambahkan babak baru dalam kekerasan. Kampanye global UNiTE mengangkat tema “Akhiri Kekerasan Digital terhadap Semua Perempuan dan Anak Perempuan,” menandai babak baru: dunia maya yang dulu dianggap tempat bermain, berekspresi, dan belajar, kini berubah menjadi ruang perburuan, pemerasan, pengawasan, dan penghukuman.

Di Kabupaten Sikka, dalam pendampingan TRUK-F, kita melihat bahwa kekerasan digital bukan teori global semata. Ia hidup dan menyakitkan. Ada perempuan yang tubuhnya dipajang di layar tanpa izin. Ada anak perempuan yang diperas melalui pesan gelap. Ada korban yang memilih bungkam karna takut, malu, dan merasa tak punya ruang aman bahkan di dalam dirinya sendiri. Kekerasan digital menjangkau lebih cepat daripada hukum, menyebar lebih luas daripada perlindungan, dan meninggalkan trauma yang tak hanya melukai tubuh, tetapi juga identitas, harga diri, dan masa depan.

Dalam kondisi ini, peringatan Hari HAM Sedunia tidak boleh menjadi catatan kaki dalam rapat tahunn, atau sekadar unggahan media social yang lalu dilupakan. Peringatan ini harus menjadi titik jeda, tempat kita mengakui bahwa negeri ini membutuhkan keberpihakan yang lebih radikal terhadap manusia terutama mereka yang paling rentan. Hak atas tanah, hak bebas dari kekerasan, hak atas lingkungan hidup yang layak, hak atas keadilan, hak atas ruang aman, semuanya bukan barang mewah. Semua itu adalah dasar dari kehidupan yang bermartabat.

Kita tidak bisa membiarkan perempuan terus kehilangan ruang aman, baik di jalan maupun dalam genggaman ponsel. Kita tidak bisa membiarkan anak-anak tumbuh dalam dunia yang mengawasi mereka bukan untuk mendidik, tetapi untuk memerangkap. Kita tidak bisa membiarkan penyintas bencana, penyintas kekerasan, dan korban pelanggaran HAM lainnya berjalan sendiri dalam gelap, sementara negara dan masyarakat menonton dari kejauhan.

Hari ini, ketika 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan  (16HAKTP) resmi ditutup, kita ditantang untuk tidak ikut menutup mata. TRUK F mengajak setiap orang, setiap komunitas, setiap lembaga, setiap pemegang kekuasaan: ruang aman harus dikembalikan, bukan hanya dijanjikan. Bukan hanya dibicarakan dalam seminar, tetapi diwujudkan dalam sistem, kebijakan, pelayanan, respons cepat, dan keberpihakan nyata.

Hari HAM Sedunia 2025 mengingatkan kita bahwa kemanusiaan adalah kerja yang melelahkan, tetapi tidak bisa dihentikan. Kita punya andil dan itu artinya kita juga punya tanggung jawab. Jika kita sungguh ingin memulihkan ruang hidup dan memelihara martabat manusia, maka tak boleh ada lagi pembiaran terhadap kekerasan, baik yang merobek tubuh maupun yang menyelinap di balik layar

Kemanusiaan tidak akan pulih hanya dengan mengingat. Ia hanya pulih jika kita berani bertindak. Selamat Hari HAM Sedunia 2025. Semoga perigatan ini bukan sekadar mengenang hak, tetapi menegakkan kembali martabat, keberanian, dan keadilan, terutama bagi mereka yang selama ini dipaksa diam.***

 

Bagikan

Komentar